Setiap YVML Pekalongan mengadakan event ngebolang bareng, aku selalu tertarik untuk mengikutinya, terlebih dengan hastag #BosanAspalPantura yang mengartikan bahwa mbolangnya menuju destinasi outdoor yang ijo royo-royo menyejukkan mata dan refresh semangat kekeluargaan, apalagi kali ini tujuannya adalah air terjun!. :yahoo:

segarnya pemandangan watu ireng

Hastag yang dibuat temen2 Kalongranger memang #BosanAspalPantura, tetapi justru sebaliknya bagi aku yang setidaknya justru harus menempuh durasi enam jam bahkan lebih di jalur aspal Pantura yang terkenal dengan keseruannya itu, Pergi-Pulang dari Cirebon dengan speed sekarepe dewe, artinya adalah bosan bagi mereka, tetapi kerinduan bagiku, terlebih setelah aku benar-benar dewean di YVML Cirebon, etchiee curcoool. :unsure:

Karena yang sebenarnya membosankan adalah, ketika aku harus selalu test speed dan performa Yamaha Vega aku dengan jenis motor lainnya, bukankah akan lebih fair jika antar sesama vega? Terlebih jika itu Veganya Muri, Milo, ataupun mungkin bolehlah di adu dengan Megapronya mang Dadi…. Sebagai pengecualian beda jenis #kodekeras :cry:

Karena acaranya hari minggu, dan aku masih punya sabtu, maka akan berasa mubazir jika tidak aku manfaatkan untuk explore salah satu sudut jauh kabupaten Pekalongan yang pernah ngehit di era tahun 2015an, Bukit Pawuluhan namanya.

Bisa dipastikan aku solo turing sabtu itu dari Cirebon, maka semau aku juga mo kapan startnya, karena bayangan aku, destinasi Bukit Pawuluhan tersebut punya petunjuk arah dan konsep sama dengan destinasi wisata pendakian lainnya yang punya basecamp, ada registrasi, dan ada HTMnya, jadi akan semudahitu pula ditemukan.

Modus untuk jadi FAMILY MAN sebelum turing aku manfaatin maksimal hingga separuh hari sabtu itu, mulai dari nemenin belanja, jogging bareng, masak bareng, sampai nonton film bareng, pokoknya semakin berat kamu menjalani peran sebagai Family man, maka akan semakin enteng kamu tarik gas saat memulai turing, bahkan dapet bonus iringan senyum dan do’a tulus dari semua yang kamu tinggalkan.

Jadi slogan darurat pria sejati “ lebih baik berani minta maaf, daripada minta ijin” alhamdulillah belum sempet dipake… hahahaha :good:

Yup siang itu 14:17 bbwi, selesai berdoa aku berteriak, “Pekalongan! here I come! “ :heart:

jangan lupa pamitan ya broh sebelum turing

Serunya Jalur Pantura hamper semua rider sudah memahaminya dan itu pula yang kemudian aku rasakan sensasinya sejak mulai dari Cirebon hingga Wiradesa Pekalongan, keseruan hari itu sedikit naek level manakala kamu dapetin tandem raja jalanan yang sedang mengejar rombongannya, sama sekali kamu tak butuh klakson, dan RC yang membukakan jalan untukmu.

Yup big thanks buat rider dari King Brebes yang sedang otw menuju acara di Jogja, salut buat kesabarannya mendampingi Vega standaran yang terpaksa ngeden berlebih demi tetap bisa menikmati raungan knalpot khasnya, menikmati tarian maut akselerasinya, dan menikmati aroma wangi Oli andalannya, emang benar apa yang dituliskan oleh seorang motivator, bahwa “kamu akan bisa lebih cepat, jika kamu mengikuti yang lebih cepat darimu”

Memasuki kota Pemalang, RX king greget itu terpaksa aku duluin dan kutinggalkan jauh dibelakang, salahnya sendiri menepi dan berhenti ketika ketemu dengan teman-temannya yang sedang menunggunya sambil ngopi di sebuah warung pinggir jalan. hahahahaha

Sesampainya di Wiradesa, awalnya aku pengen rehat sambil laporan seng mbahurekso sekalian refill BBM, tetapi ketika ternyata Pertamax full tengki senilai 37 ribu dari Cirebon masih ada sisa separuhnya kurang dikiiiit, maka aku delay untuk refill BBM, juga untuk info nderek langkung kepada Kalongranger, dan lanjut mlipir menuju jalur ke Kec Kajen.

Gerimis mulai turun dan perlahan semakin deras, kelok jalur hutan pinus pun menjadi berkilau hitam mengkilat, mengartikan bahwa pemilihan ban, tekanan udaranya, dan ritme pengereman, juga naik turunnya erpeem harus dikonsetrasikan dengan tanpa main-main, so jangan sekali-kali mencoba rebahan atau cornering karena meskipun begitu menggoda, namun pertimbangan sempitnya jalur yang membatasi haluan, basah dan licinnya aspal juga kemungkinan papasan kendaraan yang tidak terkontrol haluannya, sangat beresiko fatal.

Jalur berkelok nanjak yang mulus itupun tak berlangsung lama kunikmati, karena begitu masuk lebih jauh lagi, maka kondisi jalur offroad lah yang kemudian kamu temui, mulai dari sekedar aspal yang mengelupas, lalu aspal ngelupas plus tebaran kerikil, kemudian next levelnya adalah jalur yang menyisakan bebatuan tak beraturan tersebar begitu saja, begitu masuk Kecamatan Kandangserang yang merupakan kecamatan terakhir berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara, dengan ketinggian diatas 1077 mdpl.

Mepo Sikujang Pekalongan

Refill BBM kemudian harus aku lakukan karena indikator sudah berada dibawah garis merah, dan itu ketika aku sudah sampai pada meetpoint area wanawisata SiKujang, yang didalamnya ada curug Bekakak seperti yang direncanakan, tiga liter Pertamak aku beli di sebuah warung.

Dari hasil basa-basi dengan pemilik warung itu, aku dapet informasi bahwa keberadaan bukit Pawuluhan ternyata masih jauuuh, saking jauhnya si ibu warung bahkan tidak bisa mengira berapa jam durasinya,

“Berapa jam lagi bu, kira kira dari sini?”

“Waduh kalo jamnya gak tahu ya mas, dua jam aja pasti belum sampe, karena jauuuuuh mas”

“Oh yaudah terimakasih ya bu”, anda berhasil menurunkan semangat saya ke level yang lebih rendah.

Setidaknya aku sudah  menemukan lokasi dimana besok aku harus kembali dan bertemu dengan temen2 YVML Pekalongan.

Catatan serunya hunting Bukit Pawuluhan aku skip untuk next yah… :)

Dan minggu jam 10:17 bbwi aku sampai di Wana wisata Si Kujang, dengan SANGAT ON TIME!, dan merupakan rekor ONTIME paling sukses dari sekian event yang pernah aku ikuti bareng keluarga besar YVML selama ini, karena ternyata aku dan rombongan kalongranger pada detik yang sama berpapasan di depan gerbang masuk Wanawisata Si Kujang sebagai venue dari event #bosanaspalpantura tahun 2017 ini.

mlipirable moment Curug Blanten Pekalongan

Namun ternyata taka da satupun diantara mereka yang secara pasti tau dimana curug Bekakak itu berada, aku sudah coba menyampaikan bahwa curug tersebut berada di dalam area Si Kujang, namun sepertinya mereka masih merasa bahwa ridingnya terlalu cepat dari Pekalongan, alias kurang jauh, sehingga mereka lanjut untuk hunting curug itu lanjut keatas lagi, yang artinya aku harus balik maning.

moment ironis – hutan digunduli

Okelah kalo begituh, karena itu merupakan kebetulan juga, secara sebenarnya sebelum ke tekape aku berniat mlipir dulu ke Wisata Watu Ireng barang sebentar untuk sekedar memenuhi hasrat westau, tetapi karena dehidrasi dan terlalu focus ke jalur, maka Watu Ireng jadi terlewat…. Hehehehe.

view terasiring di ketinggian 1000an mdpl

Setelah say hello dan saling berjabat kami lanjut mencari curug Bekakak.

Sesampainya di wisata Watu Ireng, RC menepi dan menghentikan kami, karena dia baru sadar bahwa desa Tajur sudah terlewati, artinya curug Bekakak yang berada di desa Tajur gak bakalan ketemu jika tetap lanjut, karena desanya pun udah kelewat, hahahaha

loket wisata watu ireng pekalongan

Mlipirlah kita ke Watu Ireng, sesuai dengan harapan aku hihihihi

Tulisan segede gaban berwarna merah terlihat keren di puncak bukit kejauhan sana, semakin antusias pastinya aku pengen tau, dengan jalur menuruni lembah, kami sampai di parkiran motor sekitar 7 menit kemudian, setelah beberes kami jalan kaki menuju gerbang wisata Watu Ireng, ohya tak lupa aku titipin carrier di sebuah sudut warung area parker, karena kalau aku bawa-bawa kesannya kek yang berlebihan banget yah. Siul

wisata watu ireng pekalongan

Dengan HTM @limaribu rupiah kami kemudian beranjak menapaki batu greget itu, dan kenapa batu itu menjadi daya tarik wisatawan adalah karena keistimewaan di warnannya, benar-benar batu langka yang mungkin tidak ada duanya, dan hanya ada di Pekalongan, batu itu berwarna hitam!

tiket masuk watu ireng pekalongan

Yup batu itu berwarna hitam, istimewa kan broh? Itu kenapa kemudian diberi nama Watu Ireng, yang berarti batu hitam.

Haha mungkin bukan warna batunya yang hitam, yang kemudian menjadi spot wisata, tetapi gedenya batu itu menjadi satu bukit! Gedenya gaban masih lewat jauh bro… kamu bisa jalan, lari, guling-guling atapun loncat salto diatas batu yang disisi tepinya diamankan dengan pagar teralis.

menuju puncak watu ireng pekalongan

 

YVML Pekalongan di watu ireng pekalongan

Menebar pandangan luas ke kejauhan sana sungguh bikin matamu jadi ijo, terlebih banyak sosok bening yang berlalu lalang cekikikan, berbagai pose selfi perempuan perempuan muda juga menjadi dominasi jenis pengunjung watu ireng, wajar sih secara memang yang namanya ketinggian, batu gede, dan bibir jurang, sedang menjadi trend an style selfi manusia muda jaman sekarang.

Wisata watu ireng pekalongan
salah satu gazebo watu ireng pekalongan

Ada beberapa gazebo yang ada disana, dan satu yang ada di puncak watu ireng itu kami jadikan venue untuk ngobrol semi formal tentang event #bosanaspalpantura kali itu, dengan ikut sertanya tokoh Paguyuban Yamana Pekalongan, dan juga humas dari Yamaha Vega CLUB Pekalongan membuktikan bahwa eksistensi dan kebersamaan YVML Pekalongan sangat diterima dan menjadi bagian penting dunia biker di kabupaten Pekalongan.

Gazebo Puncak watu ireng pekalongan
sesepuh Pekalongan in action @watu ireng pekalongan
siapa lagi kalo bukan COR pekalongan untuk urusan narsis
in action watu ireng pekalongan
the mechanic @watu ireng pekalongan
hahaha gak komen dah buat yg satu ini
do you have vega?

 

Dengan lesehan di gazebo kemudian COR membuka dengan mendefinisikan apa dan bagaimana sebenarnya #bosanaspalpantura tersebut, dilanjutkan dengan obrolan menarik tentang posisi YVML di Paguyuban Yamaha Pekalongan, juga pertimbangan tentang kapan sebaiknya deklarasi klub vega Pekalongan dilaksanakan, saling mengingatkan dan saling peduli kemudian menjadi bahasan meriah dimana safety riding menjadi point utamanya.

serius tapi enjoy ngobrol bareng

 

Selesai di Watu Ireng kami balik menuju siKujang, untuk explore dan menikmati keindahannya bareng-bareng, namun dengan sangat terpaksa aku tidak bisa mengikuti moment di curug Bekakak tersebut, karena pertimbangan stamina, waktu tempuh balik ke Cirebon, dan Vega yang udah sedemikian mengenaskan.

Aku pamit dan saling mendo’akan untuk keselamatan dan kelancaran perjalanan masing-masing, akupun kembali solo riding menuju Cirebon, hujan yang begitu setia menemani hingga Cirebon menjadikan keseruan Pantura menjadi sempurna.

Ada nganu dibalik batu watu ireng pekalongan
another view watu ireng pekalongan
feeling free watu ireng pekalongan
rekomended for Jones (jomblo ngenes) watu ireng pekalongan
The jepretable girl @watu ireng pekalongan

 

Lalu aku kembali ke sarang mimpi, dimana senyum dan syukur menyambutku penuh arti, terimakasih Tuhan untuk scenario yang luar biasa, terimakasih untuk Happy Family, terimakasih YVML, khususnya YVML Pekalongan untuk kebersamaannya, Klub Vega Pekalongan, dan Paguyuban Yamaha Pekalongan, juga klub King Brebes.

Sampai jumpa di event selanjutnya

Salam

#137

http://www.yamaha-vega.or.id/wp-content/uploads/2017/04/19-View-Dari-Watu-Ireng.jpghttp://www.yamaha-vega.or.id/wp-content/uploads/2017/04/19-View-Dari-Watu-Ireng-150x150.jpgHappyclickTravelbolang cirebon,pekalongan,travel guide,watu ireng,watu ireng pekalongan,wisata watu ireng pekalonganSetiap YVML Pekalongan mengadakan event ngebolang bareng, aku selalu tertarik untuk mengikutinya, terlebih dengan hastag #BosanAspalPantura yang mengartikan bahwa mbolangnya menuju destinasi outdoor yang ijo royo-royo menyejukkan mata dan refresh semangat kekeluargaan, apalagi kali ini tujuannya adalah air terjun!. :yahoo: Hastag yang dibuat temen2 Kalongranger memang #BosanAspalPantura, tetapi justru sebaliknya...From Opensource to Brotherhood