Pasutri Bertengkar, Apa Penyebabnya?
Ada Delapan Pemicu Pertengkaran

Tak ada pasangan suami-istri (pasutri) yang bisa terhindar dari pertengkaran kecuali mereka saling menutup diri atau mengambil jarak. Pertengkaran adalah proses alamiah untuk belajar saling mengenal dan menumbuhkan komunikasi yang lebih intensif. Oleh sebab itu, perlulah para pasutri memahami hal-hal yang terkait dalam pertengkaran.

BIASANYA pertengkaran dipicu oleh hal-hal lain yang sebenarnya belum tentu sebagai sumber permasalahan, maka tak jarang pertengkaran menjadi melebar dan tak berujung pangkal. Berikut ini ada delapan pemicu yang sering mendorong pecahnya pertengkaran. Dengan mengenali pemicunya, para pasutri tidak terjebak di dalamnya, dan bisa menemukan apa sumber yang sebenarnya.

View post on imgur.com

1. Keuangan
Masalah keuangan adalah bidang sensitif bagi timbulnya pertengkaran karena ini menyangkut harga diri dan kepercayaan. Suami yang menanyakan penggunaan uang kepada istrinya, atau sebaliknya, bisa ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpercayaan. Jika suami sebagai pihak pencari uang dan istri pengurus rumahtangga, maka istri sangat peka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut penggunaan uang. Suami pun merasa bahwa dirinya yang “memiliki” uang dan berhak meminta pertanggungjawaban dari istrinya. Jika pasutri sama-sama sebagai pencari uang, pertanyaan yang menyangkut uang sering ditafsirkan sebagai intervensi atau pelecehan jika yang satu merasa kontribusinya lebih sedikit. Pertengkaran yang dipicu oleh masalah keuangan bila dibiarkan berlarut-larut akan menggerogoti kualitas hubungan karena persoalannya bukan pada uang semata, melainkan harga diri dan kepercayaan yang terus-menerus dirongrong.

Solusinya, buatlah perencanaan anggaran bersama dan komunikasikan setiap penggunaan, apalagi untuk hal-hal di luar perencanaan. Hindari kata-kata yang bersifat melecehkan seperti “ngurus begini aja nggak becus!” atau bernada tidak percaya “tanggal sekian sudah habis, untuk apa saja?” atau berkesan arogan “memangnya penghasilanmu berapa?” Keterbukaan adalah kunci keberhasilan dalam mengelola keuangan sebagai kekuatan dalam perkawinan, bukan sebalikya.

2. Keluarga
Keluarga dibangun oleh pasutri, tak boleh siapa pun intervensi terlalu jauh. Mereka yang sudah berani mengambil keputusan untuk menikah berarti sudah memiliki kedewasaan dan kemandirian secara emosional, termasuk keterikatan dengan orangtuanya. Kalau dua hal tersebut dilanggar tentu akan menimbulkan gangguan dalam relasi, bahkan terhadap pertumbuhan perkawinan mereka. Persoalannya, orang tak bisa dan tak berhak mengubah sikap dan perilaku orangtua/mertua, namun yang bisa dilakukan adalah mengubah diri sendiri dan membuat komitmen bersama dengan pasangan.

Menjalin hubungan baik dengan orangtua atau kerabat yang lain tidak harus dengan mengorbankan kemandirian dan kemerdekaan keluarga sendiri. Prioritas tetap pada kepentingan relasi dengan pasangan, karena itu keterlibatan pasangan sangat diperlukan. Misalnya Anda mau membantu orangtua atau saudara, keputusan harus diambil bersama pasangan. Kuncinya tetap ada di tangan pasutri itu sendiri karena perkawinan yang mereka bangun adalah tanggungjawab berdua saja dan menuntut komitmen serta prioritas darinya.

3. Orang Ketiga
Wajar saja jika Anda tetap menjalin hubungan dengan orang lain kendati sudah menikah. Hal ini akan menjadi “tak wajar” jika hubungan itu mulai mengganggu relasi Anda dengan pasangan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni (1) barangkali hubungan Anda memang tidak proporsional sebagai orang yang sudah berpasangan, indikasinya Anda memiliki keterikatan emosional dengan orang tersebut, dan (2) pasangan Anda terlalu posesif dan cemburu. Apa pun alasannya, relasi tidak boleh dikorbankan karena hadirnya orang ketiga. Membangun komunikasi dari hati ke hati adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik yang timbul akibat hadirnya orang ketiga, dan ketulusan hati untuk mempertahankan serta menumbuhkan relasi dengan pasangan.

Kendati pasangan tidak akan pernah mampu memenuhi semua kebutuhan emosional Anda, bukan alasan Anda lari mencari orang ketiga. Kekecewaan-kekecewaan dalam perkawinan adalah wajar karena pasangan bukan manusia sempurna yang akan mampu terus menyenangkan hati Anda. Pun Anda tak mungkin mampu memenuhi segala kebutuhan pasangan, sehebat apa pun Anda. Komitmen untuk setia akan memiliki makna bukan pada saat-saat kebutuhan Anda terpenuhi, justru pada saat-saat Anda merasa dikecewakan komitmen itu diuji. Hadirnya orang ketiga akan menjadi ancaman serius bagi perkawinan. Belajarlah untuk mempercayai pasangan dan percaya pada diri sendiri.

4. Pekerjaan
Pekerjaan atau karir biasanya menyita waktu Anda. Sangat mudah mencari pembenaran demi pekerjaan lalu Anda mengabaikan pasangan. Setiap hubungan antar-insan membutuhkan waktu, apalagi hubungan pasutri. Pertengkaran yang dipicu masalah pekerjaan biasanya bersumber dari kurangnya waktu yang Anda berikan untuk pasangan, khususnya kehadiran Anda. Bisa juga ketika Anda sudah di rumah pun masih membawa pekerjaan. Ingatlah bahwa relasi Anda pun butuh waktu, memprioritaskan relasi berarti memberi waktu untuknya.

Sebesar apa pun pengorbanan yang Anda berikan, pekerjaan hanya akan membalas berupa imbalan materi selama Anda masih bekerja untuk itu. Misalnya, sekarang Anda memiliki posisi top dalam perusahaan setelah seluruh hidup Anda korbankan. Lantas, seandainya Anda tiba-tiba meninggal, siapa yang paling kehilangan, perusahaan atau pasangan Anda? Tanpa Anda, perusahaan tetap jalan. Namun, bagaimana dengan pasangan? Tanpa Anda, jalan hidup pasangan dan anak Anda akan berubah entah bagaimana jadinya. Pekerjaan adalah sarana untuk aktualisasi diri sekaligus penopang hidup, bukan sebagai tujuan hidup Anda. Alokasikanlah waktu untuk menumbuhkan relasi dengan pasangan.

5. Anak-anak
Setiap pasutri mendambakan hadirnya anak sebagai buah cinta mereka, namun anak juga membawa konsekuensi, yakni Anda harus berbagi waktu dan perhatian. Mengasuh dan mendidik anak bukan perkara mudah yang bisa diwakilkan ke orang lain. Belum lagi kalau Anda dan pasangan memiliki cara yang berbeda dalam hal mengasuh dan mendidik anak. Persoalan akan makin bertambah jika anak juga mengalami masalah dalam pergaulan atau di sekolah. Kondisi semacam ini berpeluang menggangu relasi Anda dengan pasangan, yang paling lumrah adalah saling menyalahkan dan lempar tanggungjawab.

Anak adalah titipan Tuhan, artinya suatu kehormatan dan kepercayaan besar bagi pasutri karena Tuhan sendiri berkenan melibatkan pasutri dalam karya ciptaanNya. Anak yang Anda asuh adalah anak Tuhan sendiri. Anda harus mempertanggungjawabkan tugas terhormat ini dengan memberi komitmen total untuk anak. Menciptakan ruang yang kondusif bagi tumbuhkembang anak secara optimal, Anda dan pasangan harus menjadi “air” agar “ikan-ikan” bisa hidup dan bergerak leluasa di dalamnya. Pasutri dituntut berani mengorbankan egoisme dan belajar memberikan diri secara tulus dan menerima apa adanya anak. Jika Anda belum siap untuk belajar mengikis egoisme dan masih menggebu mencari kepuasan diri, lebih baik jangan punya anak. Anak adalah kesempatan yang diberikan Tuhan agar Anda tumbuh menjadi manusia yang makin sempurna — mampu mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain.

6. Seks
Persepsi keliru yang terbangun selama ini adalah perkawinan itu dibuat demi seks. Dalam pandangan ini, seakan-akan seks menjadi tujuan utama perkawinan. Dalam kenyataannya, seks justru sering jadi pemicu konflik. Ketidakpuasan salah satu pihak yang tak terkomunikasikan akan menimbulkan hambatan dalam relasi.

Realitas seksual antara pria dan wanita yang berbeda ikut menambah persoalan. Pria cenderung ingin mendapat pemuasan secara fisik sebagai jalan pelepasan ketegangan, sementara wanita lebih membutuhkan kemesraan yang ditimbulkan melalui relasi yang hangat untuk bisa membangkitkan gairah seksualnya. Pria yang dikecewakan secara seksual akan mudah tersinggung dan marah, lalu mencari pemuasan di luar. Sementara wanita yang tak dimengerti perasaannya juga sulit untuk memberikan diri secara tulus, lalu bersikap “dingin”. Dalam kondisi ini, seks bukan lagi sesuatu yang menyatukan, melainkan menjadi sumber persoalan.

Seks ada dalam kerangka penyatuan dua pribadi secara fisik maupun emosional. Seks harus dipahami dan dihayati sebagai sarana komunikasi untuk menyegarkan relasi dan menumbuhkan diri sebagai manusia. Kesediaan yang tulus untuk membahagiakan pasangan, kesabaran untuk tidak memaksakan kehendak dan egoisme, dan pengendalian diri untuk menghormati kebebasan pasangan merupakan beberapa nilai yang bisa ditumbuhkan melalui hubungan seksual. Seks adalah kesempatan untuk saling menyerahkan diri secara bebas, tanpa ada yang merasa terpaksa atau merasa “wajib”. Seks adalah kesempatan untuk memahami kebutuhan pasangan dan dengan rela memenuhinya karena didorong rasa cinta dan hasrat untuk membahagiakan.

7. Kebiasaan
Setiap individu dibesarkan oleh lingkungannya, khususnya keluarga, sehingga membawa kebiasaan-kebiasaan tertentu yang berbeda satu dengan lainnya. Anda dan pasangan dibesarkan dalam keluarga berbeda yang mewariskan kebiasaan yang beda pula. Ada orang yang dibiasakan hidup rapi, tertib, dan disiplin. Tetapi ada juga orang yang terbiasa dengan hidup serampangan, bangun tidur sesuka hati, menaruh apa saja asal-asalan. Orang yang terbiasa tertib akan senewen melihat pasangannya yang ceroboh, sebaliknya si ceroboh pun menjadi tidak nyaman dan menganggap pasangannya terlalu mengatur. Ketegangan pun tak terhindarkan. Meributkan terus-menerus kebiasaan pasangan hanya merusak hubungan.

Dalam menghadapi kebiasaan seseorang, tak ada jalan lain kecuali menerima apa adanya sejauh kebiasaan itu tidak merugikan atau tidak melanggar hukum dan norma moral. Biarlah pasangan menikmati menjadi dirinya sendiri, dan merasa nyaman berada di dekat Anda. Jika Anda merasa terganggu oleh kebiasaan pasangan lalu berusaha mengubah atau menuntut untuk berubah, sebenarnya Andalah yang egois. Biarlah pasangan terdorong untuk mengubah kebiasaannya karena motivasi ingin membahagiakan Anda.

 

8. Kegemaran
Hobi atau kegemaran sering berbeda satu sama lain. Ada orang yang gila sepak bola, bermain musik, atau memelihara hewan tertentu. Membenci dan memusuhi kegemaran pasangan hanya akan menimbulkan ketegangan. Orang yang memiliki kegemaran tertentu mendapat kepuasan batin melaluinya, yang seringkali tak bisa digantikan oleh siapa pun atau apa pun. Anda pun tak bisa menggantikan kepuasan semacam itu. Sejauh masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu, biarlah pasangan punya kesempatan berkutat dengan kegemarannya. Tak perlu Anda cemburu dan menuduh bahwa pasangan lebih mementingkan kegemarannya daripada diri Anda. Justru setelah pasangan merasa terpuaskan batinnya melalui kegemarannya, ia akan mengalirkan keramahan dan kehangatan di sekitarnya, termasuk untuk Anda.

Anda bukan manusia sempurna yang mampu memenuhi segala kebutuhan pasangan, yang tak pernah mengecewakan atau tanpa ada bagian yang “kurang” di mata pasangan. Biarlah pasangan mengisi bagian yang Anda tidak mampu mengisi melalui kegemarannya. Tentu pasangan juga harus sadar bahwa prioritas bukan pada kegemaran, melainkan relasi dengan Anda. Lebih baik lagi, jika kegemaran bisa menjadi sarana untuk saling menghadirkan diri. Berusaha menyukai kegemaran pasangan adalah langkah bijak untuk mengubah diri sendiri daripada berusaha mengubah orang lain.

========
sumber : dari milis sebelah

http://www.yamaha-vega.or.id/wp-content/uploads/2017/01/i0T9uIr.jpghttp://www.yamaha-vega.or.id/wp-content/uploads/2017/01/i0T9uIr-150x150.jpgRedaksiUmumPasutri Bertengkar, Apa Penyebabnya? Ada Delapan Pemicu Pertengkaran Tak ada pasangan suami-istri (pasutri) yang bisa terhindar dari pertengkaran kecuali mereka saling menutup diri atau mengambil jarak. Pertengkaran adalah proses alamiah untuk belajar saling mengenal dan menumbuhkan komunikasi yang lebih intensif. Oleh sebab itu, perlulah para pasutri memahami hal-hal yang terkait dalam...From Opensource to Brotherhood